Nasionalinfo.Com, Kolaka – Rektor Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, Prof. Dr. H. Nur Ihsan, SH, M.Hum, resmi dikukuhkan sebagai guru besar dalam sidang terbuka senat universitas yang digelar di salah satu hotel di Kolaka, Kamis (2/4).
Pengukuhan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik sekaligus penguatan tradisi keilmuan di lingkungan kampus. Prof. Nur Ihsan menyebut pencapaian jabatan akademik tertinggi tersebut merupakan hasil dari dedikasi panjang serta dukungan banyak pihak.
“Pencapaian ini tidak terlepas dari sinergi dan doa berbagai pihak. Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada senat universitas, pimpinan, sejawat akademik, serta keluarga yang selalu menjadi sumber inspirasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, gelar guru besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik. Sebaliknya, capaian tersebut menjadi titik awal untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
“Ini adalah titik tolak untuk terus memproduksi kebaruan ilmu, khususnya dalam diskursus pendidikan bahasa yang menjadi bagian penting dalam membangun karakter dan kecerdasan bangsa,” katanya.
Dalam pengukuhan tersebut, Prof. Nur Ihsan juga menyampaikan orasi ilmiah berjudul Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa: Membangun Kompetensi Komunikasi yang Santun, Kritis, dan Berdampak Sosial.
Ia menjelaskan, pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi oleh dinamika pembelajaran bahasa di tengah perubahan kurikulum dan disrupsi digital. Menurutnya, bahasa Indonesia kini menghadapi tantangan besar antara menjaga identitas sebagai pemersatu bangsa dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Bahasa Indonesia harus tetap menjadi perekat persatuan, namun juga mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai kesantunan dan kearifan lokal,” ungkapnya.
Dalam orasinya, ia menyoroti pentingnya pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan ini dinilai lebih relevan karena menempatkan bahasa sebagai praktik sosial, bukan sekadar struktur gramatikal.
“Bahasa bukan hanya soal kaidah, tetapi juga tindakan sosial. Karena itu, pembelajaran bahasa harus kontekstual, hidup, dan dekat dengan realitas masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengangkat berbagai tantangan pembelajaran bahasa di era digital, mulai dari maraknya penggunaan bahasa informal di media sosial hingga keterbatasan akses teknologi di sejumlah daerah.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut justru membuka ruang bagi pendekatan pragmatik untuk diterapkan karena lebih menekankan konteks dan relevansi dalam kehidupan nyata.
Selain itu, Prof. Nur Ihsan menekankan pentingnya integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran bahasa. Menurutnya, bahasa daerah memiliki peran strategis dalam memperkuat bahasa Indonesia sekaligus menjaga identitas budaya.
“Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga mengandung nilai dan sistem pengetahuan lokal. Ini harus menjadi bagian dari pembelajaran,” tegasnya.
Ia juga menyinggung peran perguruan tinggi, khususnya USN Kolaka, dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul melalui peningkatan kualitas dosen dan penguatan riset.
Pengukuhan ini menjadi momen bersejarah bagi USN Kolaka, karena untuk pertama kalinya seorang rektor aktif dikukuhkan sebagai guru besar di kampus tersebut.
“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mendorong peningkatan kualitas SDM dosen dan memperkuat budaya akademik di kampus,” pungkasnya.











