“Pas Faiz Lahir, Saya yang Ambil…” Perjuangan Ayah Muda di Kolaka Merawat Putranya Sejak Hari Pertama Kehidupan

Nasionalinfo.com, Kolaka – Tidak semua anak tumbuh dengan pelukan ayah dan ibu secara bersamaan. Muhammad Al Faizih, balita berusia 1 tahun 7 bulan, sejak membuka mata untuk pertama kalinya di dunia justru hanya mengenal satu sosok yang selalu berada di sisinya: sang ayah.

Adalah Tri Rama Dandi (26), seorang ayah muda asal Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang mengaku telah mengasuh putra semata wayangnya seorang diri sejak hari pertama kelahirannya.

Dengan suara pelan, Tri mengenang momen yang hingga kini masih membekas di ingatannya.

“Pas Faiz lahir, saya yang ambil. Saya juga yang merawatnya sampai sekarang,” ujar Tri kepada Nasionalinfo.com, Senin (27/7/2026).

Menurut Tri, ia telah berpisah dengan mantan istrinya yang berinisial Z ketika Muhammad Al Faizih masih berada dalam kandungan. Sejak itu, ia mengatakan seluruh tanggung jawab membesarkan sang anak berada di pundaknya.

Menjadi orang tua tunggal di usia muda bukanlah hal yang pernah ia bayangkan. Namun, setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, Tri harus memilih antara tetap berada di samping anaknya atau keluar rumah demi mencari uang untuk membeli susu dan makanan.

Pilihan itu selalu terasa berat.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup Faiz, Tri bekerja sebagai pengemudi ojek online. Penghasilannya tidak menentu, sementara kebutuhan anaknya tidak pernah bisa ditunda.

Di tengah keterbatasan ekonomi, ia mengaku pernah berada pada kondisi yang membuat hatinya hancur. Karena tidak memiliki keluarga yang dapat membantu menjaga Faiz dan tidak mampu membayar biaya penitipan anak, Tri terpaksa meninggalkan putranya sendirian di kamar kos setiap kali bekerja.

Sebelum melangkah keluar, ia memastikan semua kebutuhan putranya telah tersedia. Susu disiapkan, makanan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau, mainan ditata agar Faiz tidak merasa bosan.

Di sudut kamar, sebuah kamera CCTV menjadi “mata” yang menggantikan kehadirannya.

Saat orang lain sibuk mengejar orderan, Tri mengaku lebih sering mengecek layar ponselnya daripada menghitung pendapatan hari itu. Hampir setiap beberapa menit, ia membuka aplikasi CCTV hanya untuk memastikan anaknya masih tertidur dengan tenang, masih bermain, atau sekadar melihat bahwa Faiz baik-baik saja.

Setiap notifikasi pesanan yang masuk adalah kesempatan mencari nafkah. Namun, di saat yang sama, setiap kilometer perjalanan juga diiringi kecemasan seorang ayah yang tidak bisa memeluk anaknya ketika ia menangis.

Bagi Tri, hasil bekerja bukan untuk membeli barang mewah. Uang yang diperolehnya habis untuk membeli susu, makanan, popok, kebutuhan harian Faiz, dan membayar sewa kamar kos tempat mereka berteduh.

Di tengah perhatian publik terhadap kisahnya, Tri juga meluruskan informasi mengenai keberadaannya di Kota Kendari. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak menetap di sana. Kedatangannya ke Kota Kendari hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya yang kini tinggal di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut.

Meski hidup penuh keterbatasan, Tri mengaku tidak pernah berpikir untuk menyerah.

Baginya, Muhammad Al Faizih bukan sekadar anak yang harus dibesarkan. Faiz adalah alasan mengapa ia tetap bangun setiap pagi, tetap bekerja meski lelah, dan tetap bertahan ketika keadaan terasa begitu berat.

Di balik kisah ini, ada pelajaran sederhana yang mungkin sering terlupakan: menjadi orang tua bukan hanya tentang melahirkan, tetapi juga tentang hadir, bertahan, dan mencintai tanpa syarat. Bagi Tri Rama Dandi, cinta itu diwujudkan setiap hari melalui kerja keras dan pengorbanan, dengan satu harapan sederhana—agar putranya kelak tumbuh sehat, bahagia, dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *