Nasionalinfo.Com, Konawe Selatan – Di bawah atap Pondok Pesantren Minhajut Tulab, Desa Andoolo Utama, sebuah harapan baru untuk kedamaian Sulawesi Tenggara sedang dirajut. Bukan melalui patroli bersenjata, melainkan lewat untaian kata dan dakwah yang menyejukkan. Senin sore (9/3), suasana khidmat menyelimuti pengumuman pemenang Lomba Kultum Dai Kamtibmas Tingkat Kabupaten Tahun 2026.
Acara yang disiarkan melalui kanal MUI TV Konsel ini bukan sekadar kompetisi pidato biasa. Ini adalah sebuah “ikhtiar intelektual” yang mempertemukan suara ulama dengan ketegasan aparat keamanan.
Sinergi di Balik Layar
Di balik pengumuman pemenang, ada kolaborasi unik yang jarang terjadi. Sat Binmas Polres Konawe Selatan bergandengan tangan dengan MUI dan Kemenag Konsel. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah keterlibatan Densus 88 AT Satgaswil Sultra.
Kehadiran satuan antiteror ini bukan untuk melakukan penindakan, melainkan memberikan “senjata” berupa pemahaman mendalam tentang moderasi beragama dan bahaya radikalisme. Tujuannya jelas: menjadikan mimbar masjid sebagai benteng pertama dalam menangkal ideologi ekstrem yang mengancam NKRI.
Wajah-Wajah Penjaga Kedamaian
Saat Surat Keputusan Dewan Hakim dibacakan oleh para penguji, nama-nama pemenang mencuat sebagai representasi masa depan Konsel yang toleran:
• Dalisa Mumtaza Khairi dari MI Minhajut Tulab, dengan kepolosannya, berhasil meraih skor 260 di kategori anak-anak.
• Di tingkat remaja, Muhammad Zainur Rahman tampil dominan dengan skor tertinggi 262.
• Sementara di kategori dewasa, Israilah asal Kecamatan Buke membuktikan bahwa pesan damai harus terus digelorakan oleh mereka yang matang secara pemikiran.
Mereka bukan sekadar juara yang pulang membawa piala. Mulai hari ini, mereka menyandang gelar Duta Kamtibmas. Tugas mereka berat namun mulia: turun ke masyarakat untuk menyebarkan “virus” perdamaian, cinta tanah air, dan ketaatan pada hukum.
Lebih dari Sekadar Kompetisi.
“Keamanan adalah tanggung jawab kolektif,” itulah pesan yang tersirat kuat dalam kegiatan ini. Dengan dai-dai muda ini sebagai ujung tombak, Konawe Selatan sedang membangun narasi tandingan terhadap intoleransi.
Langkah ini menegaskan bahwa cara paling efektif melawan radikalisme bukanlah dengan kekerasan, melainkan dengan edukasi yang menyentuh hati. Dari Bumi Tapahea, pesan itu kini mulai menggema: bahwa agama dan nasionalisme adalah dua sayap yang menjaga burung perdamaian tetap terbang tinggi,” tutupnya.






