Kembali ke Khittah Perjuangan: Saatnya PPP Bangkit Bersama Generasi Muda
Oleh: Zainal Akib,S.Kom
Wakil Ketua Bidang OKK DPC PPP Jeneponto
“Sesungguhnya perjuangan politik bukan semata-mata tentang memperoleh kekuasaan, melainkan tentang menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.”
Sebagai pemuda kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP), saya memandang bahwa perjalanan partai hari ini merupakan bagian dari dinamika yang harus disikapi dengan kedewasaan, semangat pembaruan, dan komitmen terhadap cita-cita perjuangan. Setiap organisasi politik akan menghadapi tantangan pada masanya. Yang membedakan adalah kemampuan organisasi tersebut untuk berbenah tanpa kehilangan jati dirinya.
PPP memiliki sejarah panjang dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Lahir dari semangat persatuan umat melalui fusi beberapa partai Islam pada tahun 1973, PPP dibangun bukan sekadar sebagai kendaraan politik, tetapi sebagai wadah perjuangan untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara demokratis, konstitusional, serta menghormati keberagaman Indonesia.
Di tengah perkembangan politik nasional saat ini, PPP menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan perilaku pemilih, menguatnya politik digital, meningkatnya tuntutan terhadap transparansi, serta kompetisi yang semakin ketat menuntut seluruh kader untuk melakukan introspeksi dan pembaruan. Tantangan tersebut tidak boleh dipandang sebagai kemunduran, tetapi sebagai momentum untuk menguatkan kembali fondasi perjuangan partai.
Bagi saya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah kembali kepada khittah perjuangan PPP. Khittah bukan sekadar sejarah organisasi, melainkan arah moral yang menjadi pedoman dalam setiap gerak langkah partai. Khittah mengingatkan bahwa perjuangan politik harus berlandaskan nilai-nilai keislaman yang moderat, memperjuangkan keadilan, menjunjung tinggi persatuan bangsa, dan mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Nilai iman, ilmu, amal, dan istiqamah yang menjadi semangat perjuangan PPP harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Iman menjadi fondasi integritas, ilmu menjadi bekal dalam merumuskan kebijakan yang berkualitas, amal menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat, sedangkan istiqamah menjadi kekuatan untuk tetap konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat dalam berbagai situasi.
Sebagai generasi muda, saya melihat bahwa kebangkitan PPP sangat bergantung pada keberhasilan membangun kader yang berintegritas, berkapasitas, dan mampu menjawab kebutuhan zaman. Kaderisasi tidak boleh hanya menjadi kegiatan administratif, tetapi harus menjadi proses pembentukan karakter, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, serta kemampuan melayani masyarakat.
Visi PPP untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berkeadilan, makmur, sejahtera, bermartabat, dan demokratis harus menjadi arah setiap program perjuangan partai. Visi tersebut tidak cukup hanya menjadi dokumen organisasi, melainkan harus diwujudkan melalui kebijakan dan tindakan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Demikian pula misi PPP yang menekankan penguatan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, pembangunan demokrasi yang beretika, peningkatan kesejahteraan rakyat, penegakan keadilan, pemberdayaan ekonomi umat, peningkatan kualitas pendidikan, serta terciptanya pemerintahan yang bersih dan amanah harus menjadi kompas bagi seluruh kader dalam menjalankan amanah politik.
Pemuda memiliki posisi strategis dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Di era digital, ruang perjuangan tidak lagi terbatas pada mimbar politik dan pertemuan organisasi, tetapi juga melalui media sosial, ruang diskusi publik, dunia pendidikan, dan aktivitas pemberdayaan masyarakat. Pemuda PPP harus menjadi pelopor literasi politik yang santun, menyampaikan gagasan yang berbasis data, serta menghadirkan solusi terhadap persoalan bangsa.
Namun, pembaruan organisasi tidak boleh menghilangkan identitas perjuangan. Modernisasi harus berjalan beriringan dengan penguatan ideologi partai. PPP harus mampu menjadi partai Islam yang terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap teguh menjaga nilai-nilai dasar perjuangannya.
Selain itu, persatuan internal merupakan syarat utama kebangkitan partai. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi yang demokratis, tetapi semangat persaudaraan dan musyawarah harus selalu dikedepankan. Kepentingan organisasi dan cita-cita perjuangan harus ditempatkan di atas kepentingan individu atau kelompok.
Sebagai pemuda kader PPP, saya percaya bahwa masa depan partai tidak hanya ditentukan oleh kepemimpinan nasional, tetapi juga oleh kontribusi kader di setiap tingkatan. Setiap kader memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat, menjaga nama baik partai, meningkatkan kompetensi diri, serta memperluas pengabdian kepada masyarakat.
Pada akhirnya, keberhasilan PPP tidak semata-mata diukur dari jumlah kursi yang diraih dalam pemilu, tetapi dari kemampuannya menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat, memperjuangkan keadilan sosial, memperkuat persatuan bangsa, serta menjadi rumah perjuangan bagi umat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sebagai bagian dari generasi penerus, saya meyakini bahwa PPP memiliki modal sejarah, nilai perjuangan, dan sumber daya kader yang kuat untuk kembali menjadi kekuatan politik yang relevan. Dengan kembali kepada khittah perjuangan, menguatkan kaderisasi, mempererat persatuan, dan konsisten menjalankan visi serta misi partai, PPP dapat terus berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Mari jadikan khittah sebagai arah, persatuan sebagai kekuatan, kaderisasi sebagai investasi, dan pengabdian kepada rakyat sebagai tujuan utama perjuangan. Karena sejatinya, politik adalah ikhtiar menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara.
















