oleh

Catatan Azhari Ditengah Pandemi Covid-19 ” Elegi Negeri Cahaya Dari Kaki Bukit Kolumba “

Nasionalinfo.Com, Kolaka – Elegi Negeri Cahaya by Dr. Azhari, ST. MM ( Rektor Universitas Sembilan Belas November Kolaka )

” Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jala cukup menghidupimu. Ada ladang ada sawah kau temui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Lagu yang akrab ditelinga kita, anak-anak generasi 80an. Adakah yang salah dengan syair lagu itu?. Tentu tidak. Saat inipun bila kita menerimah kunjungan orang – orang timur tengah yang baru pertama memasuki daerah-daerah kita khususnya diluar daerah perkotaan padat, masi bergumam jannah, jannah, jannah.

Negeri kita adalah gambaran syurga. Alam menyiapkan semua serba ada. Hutan yang beraneka jenis pohon, sungai yang masi banyak menyimpan ikan, apalagi laut yang menghampar luas menjadi jembatan antara pulau. Memang Indonesia kita adalah hamparan zamrud dikhatulistiwa.

Tapi mengapa ? Rakyatnya belum bisa lepas dari kemiskinan? Mengapa setiap tahun kita mendengarkan kisah nestapa anak-anak negeri surga ini dizalimi di negeri orang. Kita selalu menghitung berapa saudara(i) kita yang harus menjadi pekerja kasar bahkan ilegal dinegeri orang. Kepergian dinegeri orang karena berharap mengubah nasib, banyak yg berhasil tapi tidak sedikit juga yg memendam pilu. Nasib anak-anak ibu pertiwi yg dicabik kehormatannya dinegeri orang.

Ditengah pandemi covid 19 saat ini. Mereka yang kalau berhasil mengirim jerih payanya dielukan sebagai pahlawan devisa. Tapi saat ini mereka mengelus dada. Para pahlawan, minimal bagi keluarganya itu terlantar dinegeri orang bahkan di negeri jiran kita mereka menggelandang sekedar mencari sesuap makan buat hari itu, tidurpun sudah tidak jelas tempatnya. Mau pulang ongkos tak punya. Kalaupun berhasil sampai ketanah ibu, mereka dilihat bak masalah yang mesti dihindari. Sedih, perih, terabaikan bercampur didada dada mrk. Tapi apalah arti sedih, sakit, merasa diabaikan itu baginya kalau yang ditujupun tak kalah nelangsanya.

Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Merintih dan berdoa
Sungai gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa.

Ya bumi, dimana air ketuban kita ini pertama tumpah, tanah, air dan lautan yang memberi nutrisi pertama pada tulang belulang dan gumpalan daging tubuh kita semua, juga pastinya bersedih. Andai kita mendengar rintihannya pasti akan sangat nestapa. Seperti hancurnya hati seorang ibu yang merasa telah mendidik dan memelihara anak2nya ditengah kelapangan. Tapi hasilnya jauh dari yang dicitakan.

Begini kira – kira ratapannya.

” Anak – anakku, bila sekedar hidup mau makan ada sagu, umbi-umbian, pohon-pohon diatas perutku pun banyak yang bisa dimakan. Nutrisi hewani, laut tak kalah lengkapnya, sungaikupun demikian, bilapun ingin bersusah sedikit menanam benih ada yg tiga bulan telah dipanen. Tapi mengapa anak2ku harus pergi jauh membuang peluh bahkan air mata dan darah diperut ibu-ibu bumi lain yang gersang dan tidak secantik dan selengkap saya”.

Nestapa ibu nusantara.

” Apakah karena dulu saya terlalu memanjakan kalian ?
Rintih bumi nusantara. Sehingga kalian lupa akan adab dan tujuan kehidupan. Bahwa kalian anak – anakku hanya akan berdiri tegak sementara diatasku lalu akan masuk kedalam perutku. Kini perutku pun telah kalian rusakan, bahkan disebagian tubuhku telah kalian robek dan dagingku kalian bawa jauh keatas perut ibu2 lain sepertiku sampai menyebrang samudra,”

Ratapan tangis tak terdengar.
” Tidakkah kalian malu menjual daging ibumu. Ibu akan berusaha berjuang agar kalian tetap tumbuh diatasku dengan tegak, semoga yang menciptaku dan menciptakan kalian tegak diatas perutku akan memberi kesadaran bahwa kalian telah jauh melupakanku, melupakan petuah-petuahku yang kuilhamkan lewat semilir angin gunung dan laut, pada anak2 awalku yg membuat mereka sangat bersahabat dengan daging (tana), bulu (tumbuhan), peluh (sungai), dara (laut), urat dan tulangku (mineral) sehingga semua unsur tubuhku terpelihara oleh mereka. Ah, ini karena kehadiran anak ibu2 lain yang dulu, datang memperdaya kalian (penjajah), karena ibunya tak bisa membuat mereka cukup. akhirnya mereka ulet menyebrang samudra, mencipta alat pembunuh yang tak beradab ditangan anak2 mereka yang kelaparan. Maka jadilah anak2 ku terkejut hingga menjadikan mereka tuan, mengikut cara mereka, menumpuk barang mainan yg mereka beri nilai sendiri dan dipaksakan nilai itu pada kalian.

Maka jadilah kalian lupa. Sampai kapan kalian akan terbangun wahai anak – anakku. Kalian meninggalkan panganan sehat diperutku lalu menyukai panganan aneh yang mereka buat dari mesin – mesin itu. Hingga kalian cepat sakit dan pikun. Kalian berlomba meniru rumah mereka yang tertutup dipenuhi dengan mesin untuk membuat hawa seperti semilirku karena diatas perut ibu mereka gersang, tidak sama diperut ibumu yang sejuk, kalian meniru mereka berpakaian tebal, itupun tidak layak karena diperut ibu mereka tak ada mentari yang tertata. Sadarlah, anak – anakku karena apa yang dimakan mereka tidak cocok denganmu, sebab darahmu, dagingmu, nafasmu dari perutku hingga pakaian, makanan mereka tak akan bisa dicernah tubuhmu, karena ibumu bukan ibu – ibu mereka.

Terima Kasih.

Sumber : Facebook Azhari ( 19/5/2020 )
Editor : Redaksi

Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

News Feed