Gagal Panen Bukan Takdir, Tapi Akibat Irigasi yang Diabaikan
Penulis: Zainal
Gagal panen yang terjadi di Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, bukanlah sebuah peristiwa yang lahir dari ketidakberuntungan semata. Ia bukan takdir yang turun dari langit tanpa sebab. Gagal panen ini adalah akibat nyata dari persoalan lama yang terus diabaikan: ketiadaan sistem irigasi yang memadai.
Di tengah musim tanam yang seharusnya menjadi momentum harapan bagi petani, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Sawah-sawah mengering, tanaman padi gagal tumbuh, dan kerja keras petani berbulan-bulan sirna tanpa hasil. Semua itu terjadi hanya karena satu hal mendasar—air tidak tersedia.
Air adalah urat nadi pertanian. Tanpa air, tidak ada kehidupan di lahan sawah. Namun ironisnya, di wilayah yang menjadikan pertanian sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat, kebutuhan paling fundamental ini justru tidak terpenuhi. Ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan kegagalan dalam perencanaan dan prioritas pembangunan.
Peninjauan yang dilakukan oleh anggota DPRD bersama Forum Pemuda Mahasiswa Jeneponto (FPMJ) semakin memperjelas bahwa masalah ini bukan hal baru. Petani telah lama menghadapi siklus kekeringan yang berulang setiap musim tanam. Artinya, pemerintah daerah seharusnya sudah memiliki cukup waktu untuk membaca pola, merancang solusi, dan mengeksekusi kebijakan yang tepat.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Irigasi masih menjadi wacana yang berulang, bukan solusi yang dirasakan. Program pembangunan sering kali tidak menyentuh kebutuhan riil petani. Sementara itu, petani terus dipaksa bertahan dalam ketidakpastian, menanam dengan harapan yang kian menipis.
Kondisi ini tidak boleh terus dinormalisasi. Gagal panen akibat kekeringan bukanlah bencana alam semata, melainkan cerminan dari lemahnya keberpihakan terhadap sektor pertanian. Ketika irigasi diabaikan, maka yang dikorbankan bukan hanya hasil panen, tetapi juga kesejahteraan petani dan ketahanan pangan daerah.
Pemerintah daerah harus segera mengambil langkah konkret. Pembangunan infrastruktur irigasi tidak bisa lagi ditunda atau sekadar menjadi janji dalam dokumen perencanaan. Dibutuhkan solusi jangka pendek seperti penyediaan sumber air alternatif, serta strategi jangka panjang berupa sistem irigasi yang berkelanjutan dan terintegrasi.
Lebih dari itu, diperlukan keberanian untuk menempatkan pertanian sebagai prioritas utama pembangunan, bukan sekadar pelengkap. Sebab tanpa perhatian serius terhadap sektor ini, maka krisis seperti yang terjadi di Batang hanya akan terus berulang dengan pola yang sama: petani menanam, kekeringan datang, dan gagal panen kembali terjadi.
Sudah saatnya semua pihak berhenti menyebut ini sebagai takdir. Karena selama irigasi terus diabaikan, maka kegagalan ini adalah hasil dari pilihan—bukan ketentuan.
Petani tidak butuh simpati yang datang sesaat setelah panen gagal. Mereka butuh kepastian, butuh air, dan butuh kebijakan yang benar-benar berpihak. Jika tidak, maka kita sedang membiarkan satu per satu harapan mereka mengering, bersama sawah-sawah yang tak lagi menghasilkan.









