1H BEFORE 5W: MENCARI JATI DIRI DI DALAM DUNIA YANG TIDAK PASTI
Penulis: Abidal Buwaithi
Studi Sulaimaniyah, Turki
29 Agustus 2026
Pernah gak si kita kepikiran kenapa ya hidup terasa monoton, kapan ya sukses, dan apakah aku sudah cukup baik.
Kebanyakan dari kita bertanya tentang jati diri dengan menggunakan pertanyaan kapan, kenapa, apa, siapa, dan dimana.
Misalnya, ketika kita bertanya “Kapan aku bisa menjadi sepertinya, kenapa aku menjalani hidup dengan yang penuh lika liku kesulitan, apakah aku bisa mendapatkan yang aku mau, siapakah aku saat ini, dan dimana orang orang yang mau menerima aku saat ini”, kita melupakan kalimat tanya, yang tiada lain adalah “BAGAIMANA”.
Kita melupakan 1H dengan terlalu fokus dengan 5W, kita tidak sadar bahwasanya Allah SWT di dalam Alquranul Karim telah menyinggung umat manusia untuk selalu berpikir “BAGAIMANA”. Bagaimana alam semesta diciptakan, bagaimana kita bisa menjalin hablum minallah dan hablum minannas dengan sebaik baiknya, dan bagaimana hidup dapat terasa dengan aman, damai dan tenteram.
Oleh karena itu patutlah kita sebagai makhluk yang diberikan akal sekaligus diembankan tugas mulia kekhalifahan di muka bumi ini untuk senantiasa menaruh kalimat tanya “BAGAIMANA” di benak kita. “Bagaimana mau sukses kalau kita masih males malesan, gimana mau mendapatkan apa yang kita mau jikalau masih tidak berani memulai, gimana mau berhasil kalau kita tidak mendekatkan diri kepada zat pemberi keberhasilan dan kebahagiaan?”.
Buat kamu yang masih bingung bagaimana kita mau memulai menaruh kata “BAGAIMANA” di alam bawah sadar kita, aku ada saran buat kamu lho, saran ini terdiri dari satu ayat dalam kitabullah Alquranul Karim, yang mana dengan keagungan ayat ini, kita bisa mengetahui jati diri kita, kita bisa mengetahui where will we go.
Ayatul karimah ini terdapat di dalam Quranul Karim surat Al Hasyr ayat 19 yang berarti “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”. Para ulama tafsir mengatakan bahwasanya kata “Lupa kepada Allah” di ayat ini bermana “ Lupa kepada hak- hak Allah”. Nah apakah yang dimaksud dengan hak hak Allah itu?
Hak-hak Allah SWT ada banyak, tapi yang paling tinggi dan tiada yang menandingi ketinggiannya adalah hak Allah SWT untuk disembah dengan sebaik-baiknya.
Diantara tanda bahwa seorang hamba telah menyembah-Nya dengan setulus tulusnya adalah hamba tersebut menaruh Allah SWT di atas segalanya, i mean melakukan sesuatu karena-Nya dan meninggalkan suatu hal karena-Nya. Dalam hal ini, Baginda nabi besar kita Muhammad Musthafa SAW bersabda dalam hadist syarifnya yang berbunyi “Tali ikatan iman yang paling kuat adalah kamu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah”(H.R Ahmad).
Kalau masih susah buat mengamalkan yang diatas,aku saranin agar kamu membaca ayat tadi sesering mungkin. InsyaAllah dengan taufik-Nya kamu bisa memiliki arah yang lebih jelas dan bermana di dalam hidupmu. Aamin ya rabbal alamin.
Perlu diingat, bahwa tolak ukur suksesnya manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia dapat, tapi seberapa mantap ia bisa merasa cukup. Karena keinginan insan tak akan pernah habis, di dunia yang sementara ini hanya diperlukan ketenangan hati. Dan satu satunya jalan untuk mencapai ketenangan hati yang sebenarnya hanyalah dengan mengingat Allah SWT. “Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah SWT lah hati akan selalu tenteram. ”(QS Ar-Ra’d ayat 28).









