Kisah Peci Dan Identitas Nasionalisme Bung Karno
Kisah Peci Dan Identitas Nasionalisme Bung Karno
Posted by

Kisah Peci Dan Identitas Nasionalisme Bung Karno

Peci, sebuah penutup kepala berwarna hitam semakin populer saat Presiden Soekarno mengenakannya. Di zaman pergerakan pada awal abad ke 20, peci dijadikan sebagai identitas nasional, simbol kebangsaan dan simbol Indonesia.

Cindy Adams dalam sebuah bukunya berjudul ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat’ menjelaskan pada awal abad 20, kaum pergerakan sangat membenci pemakaian blangkon dan sarung karena dianggap identik dengan kalangan feodal.

Dalam sebuah rapat (vergadering) Jong Java pada Juni 1921 yang dihadiri tokoh-tokoh pergerakan nasional, Soekarno saat itu berusia 20 tahun. Ia mengamati kawan-kawannya yang berlagak enggan memakai tutup kepala dan hendak meniru gaya penjajah Barat.

Sebagai bangsa yang sudah mulai menyadari arti penting kemerdekaan, tentu saja Indonesia harus memiliki simbol-simbol pemersatu. Dalam kondisi seperti itulah Soekarno membangun argumentasi dan menjadikan peci sebagai simbol identitas bangsa dan pergerakan nasional. Dalam pandangan Soekarno, peci adalah tutup kepala yang banyak dipakai oleh para buruh di semenanjung Melayu. Perjuangan Soekarno sendiri memang identik dengan mengangkat harkat dan derajat bangsa Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Bukan perkara mudah untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Soekarno sendiri membutuhkan rakyat sebagai pijakan dasar perjuangan.

“Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka,” kata Soekarno saat menggelar orasi di rapat Jong Java.

Sejak saat itulah Soekarno dalam setiap penampilannya identik dengan peci beludru hitam. Soekarno juga mengkombinasikan peci hitam dengan dasi, jas dan kemeja, sebagai simbol kesamaan derajat antara bangsa terperintah dengan bangsa yang memerintah.

Lantas dari manakah peci berasal?

Soekarno sendiri bukanlah orang pertama kali yang mengenakan peci dengan beludru hitam, adalah Tjipto Mangunkusumo yang merupakan salah satu tokoh 3 serangkai orang yang pertama kali mengenakan peci berwarna hitam.

Pada tahun 1908, peta politik global mengalami perubahan drastis. Kesultanan Turki Ottoman dilanda gerakan perubahan. Timbul gerakan dari generasi muda yang ingin melakukan perubahan di kekhalifahan Islam terakhir tersebut. Bahkan anak-anak muda Turki dan kaum intelektual menggunakan tutup kepala ‘Fez’ dengan corak warna merah. Di dalam negeri sendiri penggunaan Fez diikuti oleh Ki Hajar Dewantara.

Rozan Yunos dalam sebuah bukunya berjudul ‘The Origin of The Songkok or Kopiah’ dalam The Brunei Times pada tanggal 23 September 2007 menjelaskan bahwa penggunaan peci sudah dikenal luas di Asia Tenggara. Peci sendiri dikenalkan oleh para pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam di kawasan Asia Tenggara.

Namun demikian pandangan Rozan menimbulkan spekulasi sebab kini tidak terlihat lagi orang-orang Arab mengenakan peci berwarna hitam. Kalangan Arab sendiri identik dengan turban atau sorban berwarna putih yang dililitkan di atas kepala.

Sementara itu Marwati Djoened Poesponegoro dan Brigjen TNI (Purn) Nugroho Notosusanto dalam bukunya ‘Sejarah Nasional Indonesia III’ menjelaskan bahwa peci tampaknya sudah dikenal di Giri, salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Ketika Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di Madrasah Giri, dia kembali ke Ternate dengan membawa kopiah atau peci sebagai buah tangan.

“Peci dari Giri dianggap magis dan sangat dihormati serta ditukar dengan rempah-rempah, terutama cengkeh,” demikian tulisan dalam buku sejarah tersebut.

Di dalam negeri sendiri pada abad ke 20 seiring dengan semakin besarnya pengaruh Sokarno dalam dunia pergerakan nasional, peci semakin identik dengan lambang dan identitas nasionalisme.

Dalam rapat-rapat akbar hampir semua kalangan intelektual, cendikiawan dan kalangan terdidik menggunakan peci sebagai penutup kepala. Dalam sebuah rapat Partindo pada tahun 1932 nampak para peserta juga mengenakan peci beludru hitam, sama persis dengan peci yang dikenakan Soekarno.

Seiring dengan berjalannya waktu, peci kini menjadi busana formal yang kerap dikenakan para pejabat negara. Bahkan sejumlah penggiat demokrasi dan aktivis sosial juga terlihat mengenakan peci.

 

baca juga:

Facebook Comments